Bab 1
KEKALAHAN BUKANLAH KEGAGALAN
300 kata
Dua minggu menjelang pertandingan, Laras berlatih semakin keras. Setiap sore, ia berlatih bersama rekan-rekan dan pelatihnya. Tendangan, pukulan, dan kuda-kuda ia ulang berkali-kali hingga peluh membasahi bajunya.
Tidak hanya itu, di rumah Laras juga tidak bersantai. Setiap pagi, ia lari mengelilingi kompleks perumahannya, kemudian melakukan skipping, push-up, dan sit-up.
"Aku harus kuat, aku harus menang," tekadnya setiap kali ia merasa lelah.
Hari pertandingan tiba. Laras melangkah ke arena dengan percaya diri. Ia bertanding dengan berani. Namun, lawannya sangat tangguh. Meski sudah mengerahkan seluruh kemampuan, Laras kalah di babak akhir. Peluit berbunyi. Skor tidak berpihak padanya.
Di pinggir arena, pelatih menepuk pundaknya. "Pertandingan yang bagus, jangan patah semangat". Laras hanya mengangguk pelan. Tetapi, hatinya merasa marah pada diri sendiri, sedih, dan kecewa atas kekalahannya. Matanya berkaca-kaca. Langkahnya gontai
Di tribun penonton, Ibu menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Menangislah kalau perlu, Nak. Tapi ingat, kekalahan bukanlah sebuah kegagalan. Latihan dan usahamu tak pernah sia-sia," bisik Ibu lembut, mengusap punggung Laras yang masih bergetar.
Laras menyembunyikan wajahnya di bahu sang ibu, air matanya tumpah seketika. "Tapi, Bu... Laras sudah latihan setiap hari sampai badan Laras sakit semua. Laras kecewa sama diri sendiri. Kenapa Laras kurang cepat tadi?" suaranya serak menahan sesak.
Ibu tersenyum teduh, menangkup kedua pipi Laras, lalu menghapus air mata di sana. "Ibu tahu seberapa keras kamu berjuang. Rasa sedih itu wajar. Namun, lihat lawanmu tadi, dia juga berlatih sama kerasnya, bukan? Hari ini dia unggul, tetapi itu bukan berarti jalanmu tertutup."
Laras terdiam sejenak, meresapi kata-kata ibunya. Perlahan, sesak di dadanya mulai berkurang, digantikan oleh pemahaman baru.
Laras mengusap sisa air matanya, menarik nafas dalam-dalam, lalu mengangguk. "Ibu benar. Kekalahan bukanlah sebuah akhir, namun awal dari kekuatan baru. Aku akan mengevaluasi kekuranganku dan berlatih lebih keras lagi. Pertandingan berikutnya, aku pasti lebih baik," tekadnya.
Mata Laras kembali bersinar penuh semangat memandang arena.