Saat membantu membawa minuman, bayangan kamar Arjuna terus terlintas di pikiran Amel. Ia lalu membandingkannya dengan kamarnya sendiri. Ia mengingat tumpukan baju cucian kering yang dijadikan gunung di sudut kasur, atau bungkus camilan semalam yang masih setia nongkrong di meja belajar. Selimut sering dibiarkan kusut sejak pagi, buku pelajaran menumpuk di lantai, dan seragam yang sudah dipakai kadang baru dimasukkan ke keranjang cucian setelah diingatkan ibu. Berkali-kali ia berniat merapikan kamar, tetapi rasa malas selalu menang. "Nanti saja," pikirnya setiap hari, hingga akhirnya tidak pernah benar-benar dikerjakan.
📖
RAHASIA DI BALIK PINTU KAMAR
Saat membantu membawa minuman, bayangan kamar Arjuna terus terlintas di pikiran Amel. Ia lalu membandingkannya dengan kamarnya sendiri. Ia mengingat tumpukan baju cucian kering yang dijadikan gunung di sudut kasur, atau bungkus camilan semalam yang masih setia nongkrong di meja belajar. Selimut sering dibiarkan kusut sejak pagi, buku pelajaran menumpuk di lantai, dan seragam yang sudah dipakai kadang baru dimasukkan ke keranjang cucian setelah diingatkan ibu. Berkali-kali ia berniat merapikan kamar, tetapi rasa malas selalu menang. "Nanti saja," pikirnya setiap hari, hingga akhirnya tidak pernah benar-benar dikerjakan.
← → untuk berpindah halaman | Esc untuk keluar