Bab 1 dari 3

Bab 1

ANDAI AKU MASIH KECIL

362 kata

Aisyah pulang dengan langkah gontai. Sepanjang perjalanan dari Musala ke rumah, dia hanya diam. Bahkan candaan Irma yang biasa jadi favorit nya juga tidak mampu membuatnya tertawa. Pikirannya kacau. Ia gelisah.

Tadi Ustadzah memberitahukan, bahwa bulan depan sudah memasuki bulan Ramadhan. Bulan suci yang memberi manusia kesempatan untuk mendapatkan banyak pahala dan membersihkan diri dari dosa-dosa. Aisyah senang mendengarnya, bagi Aisyah Ramadhan itu artinya, Aisyah bisa segera beli baju baru untuk Lebaran. Tapi Aisyah tidak senang ketika Ustadzah mengatakan bahwa, sebagai umat muslim, Aisyah wajib berpuasa. Apalagi, Aisyah sudah kelas 3 SD.

Aisyah tidak suka berpuasa. Karena itu artinya, dia harus menahan lapar dari subuh hingga maghrib. Betapa lamanya itu!

Ramadhan sebelum - sebelumnya, Aisyah puasa setengah hari aja. Itupun kadang dia tidak puasa kalau dia tidak bangun saat sahur. Kadang Aisyah juga membatalkan puasa sebelum waktu berbuka tanpa sepengetahuan ibu.

Tapi tadi, Ustadzah mengingatkan agar Aisyah mulai belajar puasa penuh, karena dia sudah kelas 3 SD. Aisyah bingung dan sedih. Dia menyesali diri, kenapa dia sudah kelas 3 SD.

“Andai aku masih TK kan enak, bisa alasan ngga kuat pusanya. Pasti dimaklumi.” Gumam Aisyah.

Sampai rumah, Aisyah membuka pintu tanpa mengucap salam. Pikirannya masih kacau. Ia langsung duduk diam di ruang tamu.

Ibu yang mendengar pintu dibuka tapi tak mendengar suara, bergegas memeriksa keadaan dan menemukan Aisyah termenung di ruang tamu. Ibu menatapnya heran. Kemudian duduk disebelahnya.

“Anak ibu kenapa ini? Tumben banget masuk rumah lupa ucap salam dan duduk diam disini?” Aisyah menyandarkan kepalanya ke Ibu sambil menghela nafas.

“Bulan depan sudah puasa ya bu?” tanya nya dengan pelan.

“Wah iya, Ibu lupa. Sudah hampir Ramadhan ya? Cepat sekali waktu berlalu.” Jawab Ibu.

“Nah, trus kenapa wajah Ais tampak sedih? Biasanya kan Ais seneng banget ketemu Ramadhan?”

“Tadi Ustadzah bilang, Ais sudah seharusnya puasa penuh dari Subuh hingga Maghrib karena Ais sudah besar. Ais kan ngga kuat Bu. Lama banget itu Subuh sampai Maghrib. Puasa setengah hari aja badan Ais sudah lemes banget.” Jawab Aisyah dengan kesal. Ibu tertawa dan mencubit pelan pipinya.

“Belum juga dicoba sudah bilang ngga sanggup” Jawab Ibu lembut. Aisyah makin cemberut. Dia berdiri dan masuk ke kamarnya. Dilemparnya tubuhnya ke tempat tidurnya. Sekarang, Ais juga kesal sama Ibu.

Bab 1 dari 3