Bab 2
NORMA
661 kata
Hari Minggu, Ayah dan Ibu mengajak Aisyah pergi ke sebuah Panti Asuhan untuk memberikan infaq. Keluarga Aisyah sudah sering berkunjung ke panti tersebut, disana banyak anak-anak kecil, bahkan ada yang bayi. Tidak semua anak – anak penghuni panti adalah anak yatim piatu ada juga yang masih punya kedua orangtuanya tapi keluarganya tidak mampu, jadi anaknya dititipkan disana. Seperti Norma, sahabat Aisyah. Norma seumuran dengan Aisyah. Dia dititipkan di panti sejak usia 4 tahun. Ayah Ibu Norma adalah pemulung dan tinggal di rumah petak di dekat tempat pembuangan sampah. Ayah Ibunya tidak ingin Norma mengalami kehidupan yang sulit bersama mereka. Jadi, ketika ada petugas panti yang menawarkan tempat untuk Norma dan merawatnya, mereka setuju. Sesekali, orangtua Norma masih datang menjenguk Norma. Seperti hari ini.
Saat mereka bermain bersama, Aisyah bertanya kepada Norma.
“Mereka Ayah dan Ibumu ya?” Norma mengangguk.
“Kenapa sih kok kamu mau tinggal disini? Memangnya kamu ga mau tinggal sama orangtuamu?”
“Sebenarnya, aku juga mau ketemu Ayah Ibuku setiap hari Ais. Aku lebih suka tinggal bersama mereka walaupun tempat tinggalku jelek dan kumuh.”
“Terus.…..?”
“Tapi, aku kasihan juga sama Ayah Ibu kalau aku tinggal bersama mereka. Hidup mereka pasti jadi lebih sulit lagi.” Jawab Norma sambil menunduk sedih.
“Kami sering tidak bisa makan seharian, bahkan pernah tidak makan selama 2 hari Ais.”
“Hah?? 2 hari? Beneran 2 hari ngga makan?” tanya Aisyah kaget dan tak percaya.
“Saat itu Ayah sedang sakit dan tidak bisa ditinggal sendirian, karena itu ibu juga tidak bisa memulung. Sedangkan kami tidak memiliki apapun untuk makan hari itu. Hanya ada air minum.” Mata Norma berkaca – kaca, dan suaranya tercekat mengingat hari sedih itu. Aisyah hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.
“Beruntung, ada petugas panti yang datang pada hari kedua ayah sakit. Saat itu, mereka datang untuk membagi – bagikan makan gratis Jumat berkah. Aku dan orangtuaku akhirnya bisa makan, bahkan mereka membantu mengantarkan ayah berobat.” air mata Norma jatuh juga, dia menangis sedih. Aisyah menggenggam tangan Norma, menguatkannya.
“Setelah hari itu, kamu tinggal di panti ini?” tanya Aisyah. Norma mengangguk, lalu menarik nafas dalam – dalam. Menenangkan diri.
“Benar.” Jawab Norma kemudian sambil mengusap air matanya.
“Pihak panti hanya menawarkan tempat untukku, karena memang tempat ini hanya menampung anak-anak. Awalnya aku menangis karena merasa dibuang. Tapi lama-lama aku tahu, ini yang terbaik untuk kami. Aku jadi bisa tidur dan makan dengan layak, bisa sekolah dan bahkan orangtuaku mendapatkan bantuan sembako secara rutin, jadi mereka tidak pernah kelaparan lagi.”
Saat membantu ibu menyiapkan makan malam, Aisyah melihat ada ayam goreng kesukaannya. Dengan semangat, dia menatanya diatas meja makan dan segera duduk. Tiba-tiba, Aisyah teringat Norma. Dia membayangkan betapa laparnya Norma yang bahkan saat itu masih sangat kecil, tidak makan selama 2 hari. Aisyah menangis sedih. Ayah dan ibu saling pandang. Heran.
“Ais, kenapa menangis nak?” tanya ibu. Beliau mendekati Aisyah, memeluknya dan mengusap kepalanya. Aisyah memeluk ibu masih sambil menangis. Ibu menenangkannya.
“Ais sedih bu. Kemarin Norma cerita kalau dulu, ketika masih kecil dan tinggal bersama orangtuanya, Norma sering tidak makan seharian, bahkan katanya, dia pernah tidak makan selama 2 hari.” Aisyah bercerita setelah ia merasa lebih tenang. Ibu memeluk Aisyah dan mengecup keningnya. Ayah kemudia juga duduk disebelahnya dan memeluknya tanpa berkata apa-apa.
“Banyak anak-anak dan orangtua diluar sana yang mengalami hal yang sama dengan Norma, Ais. Mereka harus bersusah payah hanya untuk bisa makan satu kali sehari, Nak.” Jawab ibu kemudian.
“Itulah kenapa, kita wajib berbagi. Untuk membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita yang tidak mampu. Seperti Norma dan keluarganya.” Sambung ayah.
Malam itu, menjelang tidur, Aisyah masih memikirkan betapa laparnya Norma saat itu. Ia jadi teringat ketika Ia menjalankan puasa Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Aisyah hanya mau puasa setengah hari, karena tidak sanggup menahan godaan jajanan di sekitar sekolah. Bahkan terkadang, dia diam - diam membatalkan puasanya tanpa ibu tahu. Sedangkan Norma bilang, sejak tinggal di Panti, dia selalu bersyukur saat puasa Ramadhan karena dia jadi ingat bahwa keadaan dia sekarang sudah jauh lebih baik. Dia tidak perlu takut tidak bisa makan, karena pasti selalu tersedia makanan untuk sahur dan berbuka setiap hari.