Bab 3 dari 3

Bab 3

ALHAMDULILLAH, PUASA PENUH PERTAMA

447 kata

Ramadhan pun tiba. Aisyah bertekad untuk menjalankan puasa satu hari penuh. Namun ternyata tidak mudah. Bahkan setelah banyak makan saat sahur, perutnya masih keroncongan di siang hari. Rasa haus juga membuatnya sangat menderita. Hampir saja ia minum segelas air sepulang sekolah tadi. Aisyah sudah mengisi gelasnya dengan air dingin. Tapi, ketika ia mengangkat gelas hendak meminumnya, Ia teringat ceramah ustadzah bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi terutama adalah menahan diri untuk tidak melakukan hal – hal yang dilarang agama bahkan saat tidak seorangpun tahu. Aisyah segera meletakkan gelas itu dan masuk kamar. Ia tidak ingin niatnya berpuasa penuh rusak gegara segelas air dingin.

Hari ketiga puasa, Aisyah masih bersusah payah menahan lapar. Dia menghemat energinya, dia tidak bermain saat istirahat di sekolah dan tidak banyak bicara seperti biasanya. Sepulang sekolah, dia memilih tidur. Hingga hari ke tujuh dia melakukan hal yang sama setiap hari.

“Lemes banget bu badanku” Aisyah menyandarkan tubuhnya pada ibu di sofa ruang tengah.

“Rasanya hari ini Aisyah ngga sanggup puasa sampai Maghrib.” Keluhnya pada Ibu. Ibu tersenyum.

“Coba Ais lakukan sesuatu yang Ais suka, seperti menggambar atau menulis.” Aisyah menurut. Dia memaksa tubuhnya bangkit. Dia ambil buku gambarnya dengan lunglai, dan mulai menggambar, mewarnai dan membongkar lalu memasang kembali puzzle - puzzle miliknya.

Dan Aisyah cukup terkejut ketika ibu mengingatkannnya untuk segera mandi dan membantu ibu mempersiapkan menu takjil untuk berbuka, hari sudah sore!

“Wah, ternyata menyibukkan diri membuatku lupa sama puasa dan lapar bu.” Aisyah menghampiri ibu di dapur dengan riang.

“Walaupun bau ayam goreng ini masih menggoda perutku sih” katanya dengan jenaka, lalu mengendus aroma ayam goreng kesukaannya dari piring yang dibawanya. Ibu tertawa melihat tingkahnya.

"Alhamdulillah....." Ucapnya segera setelah kumandang Adzan terdengar. Sampai hari ketujuh ini, Aisyah masih bisa berpuasa penuh dari Subuh hingga Maghrib walaupun dengan susah payah.


Hari demi hari berlalu. Aisyah semakin terbiasa menjalani puasa. Lapar masih datang, tetapi kini ia tahu cara menghadapinya. Aisyah berusaha menyibukkan dirinya. Dia tetap melakukan aktivitas seperti biasa, bermain, dan mengaji bersama teman – temannya. Aisyah juga semakin rajin melakukan ibadah. Dia ikut sholat Subuh, Maghrib, Isya’, dan Tarawih berjamaah di Musala. Dia melakukan itu semua dengan hati gembira. Bahkan kini, setiap sahur dan berbuka, Aisyah selalu mengucapkan, "Alhamdulillah" dengan setulus hati. Ia tahu, tidak semua anak seberuntung dirinya.

Saat azan Maghrib berkumandang. Aisyah tersenyum lebar. Matanya berkaca – kaca. Ia merasa haru dan bangga atas pencapaiannya. Ia bisa puasa penuh Ramadhan ini. Aisyah mengangkat segelas air minum, memejamkan mata dan berbisik pelan.

“Alhamdulillah….Allaahumma laka shumtu wa bika aamantu wa 'alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin. Aamiin.”

Tiba-tiba, ia teringat Norma. Air matanya mengalir. Lalu dia berdoa dalam hati.

“Ya Allah, semoga semua anak bisa makan kenyang hari ini. Aamiin.”

Bab 3 dari 3

🎉

Selesai! Kamu telah membaca semua bab.

Kembali ke halaman cerita