Halaman 3 dari 4

Keesokan harinya, Kapas melihat anak laki-laki bernama Beni di lapangan sekolah. Beni tampak kesal karena belum bisa bermain sepak bola dengan baik. "Aku selalu salah menendang bola," keluh Beni. Kapas melayang di atas kepalanya. "Tahukah kamu bagaimana pohon kelapa tumbuh tinggi?" Beni menggeleng. "Sedikit demi sedikit setiap hari. Tidak langsung tinggi dalam semalam." Beni pun kembali berlatih. Ia menendang bola lagi dan lagi. ⚽☁️ Hari demi hari, Kapas terus membantu anak-anak desa. Saat ada yang takut mencoba, Kapas memberi semangat. Saat ada yang kecewa, Kapas mengingatkan bahwa kegagalan adalah bagian dari belajar. Saat ada yang ingin menyerah, Kapas berkata, "Langit yang cerah juga pernah dipenuhi awan gelap. Tapi matahari selalu muncul kembali." 🌤️✨ Beberapa bulan kemudian, Nina mengikuti lomba menggambar lagi. Kali ini ia memenangkan juara kedua. Beni juga berhasil masuk tim sepak bola sekolah. Mereka sangat bahagia. Sore itu, anak-anak desa berkumpul di lapangan sambil mencari Kapas. Namun, Kapas tidak terlihat. "Awan Kapas ke mana?" tanya Nina.
Halaman 3 dari 4