TERBURU-BURU
Matahari mulai tenggelam ketika Khalif selesai bermain sepak bola bersama teman-temannya. Dari masjid dan musala terdengar salawat dan puji-pujian.
Khalif berlari pulang dan segera mandi, kemudian mengambil sarung dan pecinya. Ia ingin salat Magrib berjamaah bersama Ayah di masjid. Namun, ketika melihat jam, Khalif panik.
“Waduh, waktunya tinggal sedikit!”
Ia pun bergegas menuju tempat wudu, membuka lebar keran air, lalu membasuh wajah, tangan dan kakinya asal-asalan.
“Sudah!” kata Khalif sambil mengibaskan tangannya dan berbalik hendak meninggalkan tempat wudu. Ayah yang juga hendak berwudu menghentikan langkahnya.
📖
JANGAN ASAL BASAH, KHALIF!
TERBURU-BURU
Matahari mulai tenggelam ketika Khalif selesai bermain sepak bola bersama teman-temannya. Dari masjid dan musala terdengar salawat dan puji-pujian.
Khalif berlari pulang dan segera mandi, kemudian mengambil sarung dan pecinya. Ia ingin salat Magrib berjamaah bersama Ayah di masjid. Namun, ketika melihat jam, Khalif panik.
“Waduh, waktunya tinggal sedikit!”
Ia pun bergegas menuju tempat wudu, membuka lebar keran air, lalu membasuh wajah, tangan dan kakinya asal-asalan.
“Sudah!” kata Khalif sambil mengibaskan tangannya dan berbalik hendak meninggalkan tempat wudu. Ayah yang juga hendak berwudu menghentikan langkahnya.
← → untuk berpindah halaman | Esc untuk keluar