Halaman 3 dari 8
MULAI DENGAN NIAT

MULAI DENGAN NIAT

“Pertama, kita berniat berwudu dalam hati,” kata Ayah. “Apa Khalif ingat niatnya?” tanya Ayah kemudian. Khalif mengangguk. “Ingat, Yah.” Khalif kemudian berniat wudu. “Setelah itu, kita mulai dengan mencuci kedua telapak tangan terlebih dahulu. Pastikan sela-sela jari terbasuh.” Khalif membuka keran lebar-lebar, dan bersiap mencuci tangan. “Jangan membuka keran terlalu besar, gunakan air seperlunya,” tegur Ayah lembut. Khalif mengecilkan keran air. “Supaya kita tidak melewatkan bagian yang perlu dibersihkan, lakukan dengan perlahan.” Khalif mengangguk dan mengikuti petunjuk Ayah. Kali ini ia tidak terburu-buru. “Berikutnya, berkumur dan membersihkan hidung dengan air” lanjut Ayah, Khalif memperhatikan dengan saksama. “Wah, aku belum pernah membersihkan hidung dengan air seperti itu, Yah!” “Karena itu, jangan asal basah, wudu ada urutan dan bagian-bagian yang perlu dibasuh dan tidak boleh dilompati apalagi dilewatkan.” Khalif nyengir.
Halaman 3 dari 8