JANGAN SIA-SIAKAN AIR
Khalif hendak pergi ketika Ayah memanggilnya.
“Khalif.”
“Iya, Yah?”
“Lihat kerannya.”
Khalif menoleh. Air masih mengalir. Ia lupa mematikan keran airnya.
Ia segera memutar keran hingga tertutup.
“Maaf, Yah. Khalif lupa.”
“Karena terburu-buru, Khalif jadi melupakan hal-hal kecil seperti mematikan keran. Padahal, menggunakan air seperlunya adalah kebiasaan baik yang harus kita lakukan,” Ayah mengingatkan.
Khalif mengangguk. Saat Khalif menoleh kembali ke arah keran air, ia melihat genangan kecil di sekitar tempat wudu.
Ia kemudian mengambil alat pembersih dan merapikan tempat itu.
“Menjaga tempat wudu tetap bersih juga kebiasaan baik, kan, Yah?” katanya sambil tersenyum lebar setelah membersihkan genangan itu.
“Benar, Nak.” Ayah tersenyum sambil mengangkat dua ibu jarinya.
“Mulai sekarang aku akan ingat aturan wudu. Bersih, tertib, tidak boros, dan tidak boleh terburu-buru!”
Ayah tersenyum bangga. Mereka kemudian berjalan bersama menuju masjid.
📖
JANGAN ASAL BASAH, KHALIF!
JANGAN SIA-SIAKAN AIR
Khalif hendak pergi ketika Ayah memanggilnya.
“Khalif.”
“Iya, Yah?”
“Lihat kerannya.”
Khalif menoleh. Air masih mengalir. Ia lupa mematikan keran airnya.
Ia segera memutar keran hingga tertutup.
“Maaf, Yah. Khalif lupa.”
“Karena terburu-buru, Khalif jadi melupakan hal-hal kecil seperti mematikan keran. Padahal, menggunakan air seperlunya adalah kebiasaan baik yang harus kita lakukan,” Ayah mengingatkan.
Khalif mengangguk. Saat Khalif menoleh kembali ke arah keran air, ia melihat genangan kecil di sekitar tempat wudu.
Ia kemudian mengambil alat pembersih dan merapikan tempat itu.
“Menjaga tempat wudu tetap bersih juga kebiasaan baik, kan, Yah?” katanya sambil tersenyum lebar setelah membersihkan genangan itu.
“Benar, Nak.” Ayah tersenyum sambil mengangkat dua ibu jarinya.
“Mulai sekarang aku akan ingat aturan wudu. Bersih, tertib, tidak boros, dan tidak boleh terburu-buru!”
Ayah tersenyum bangga. Mereka kemudian berjalan bersama menuju masjid.
← → untuk berpindah halaman | Esc untuk keluar