Waktu berlalu cepat, dan jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Matahari mulai tenggelam, menandakan Lita harus segera pulang. Namun, mata Lita masih lekat menatap squishy merah muda dalam pelukan Anisa. Rasa ingin memiliki tiba-tiba menguasai dirinya.
"Anisa... boleh tidak kalau aku bawa pulang squishy ini? Aku pinjam dulu, ya?" tanya Lita dengan nada membujuk, matanya menatap penuh harap.
Senyum di wajah Anisa langsung memudar, digantikan oleh rasa bimbang. "A-aduh, maaf banget ya, Lita. Tapi ini hadiah spesial dari Ayahku. Aku baru memainkannya hari ini dan belum rela kalau harus berpisah," jawab Anisa dengan suara pelan, berusaha menolak sehalus mungkin agar tidak menyakiti hati sahabatnya.
Mendengar penolakan itu, hati Lita rasanya seperti tersengat. Wajahnya cemberut, Lita marah. Ia merasa kecewa karena permintaannya ditolak oleh sahabat sendiri.
📖
SQUISHY LUCU YANG NYARIS MEMUTUS PERSAHABATANKU
Waktu berlalu cepat, dan jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Matahari mulai tenggelam, menandakan Lita harus segera pulang. Namun, mata Lita masih lekat menatap squishy merah muda dalam pelukan Anisa. Rasa ingin memiliki tiba-tiba menguasai dirinya.
"Anisa... boleh tidak kalau aku bawa pulang squishy ini? Aku pinjam dulu, ya?" tanya Lita dengan nada membujuk, matanya menatap penuh harap.
Senyum di wajah Anisa langsung memudar, digantikan oleh rasa bimbang. "A-aduh, maaf banget ya, Lita. Tapi ini hadiah spesial dari Ayahku. Aku baru memainkannya hari ini dan belum rela kalau harus berpisah," jawab Anisa dengan suara pelan, berusaha menolak sehalus mungkin agar tidak menyakiti hati sahabatnya.
Mendengar penolakan itu, hati Lita rasanya seperti tersengat. Wajahnya cemberut, Lita marah. Ia merasa kecewa karena permintaannya ditolak oleh sahabat sendiri.
← → untuk berpindah halaman | Esc untuk keluar