Halaman 3 dari 3
Mari Memulai Dengan Bismillah

Mari Memulai Dengan Bismillah

Gendhis pulang ke rumah sambil mendekap piala di dadanya. Ia mengetuk pintu, kali ini ia tidak berteriak ataupun tergesa-gesa. Ia mengucap salam dengan suara yang jauh lebih tenang. Ibu menyambutnya di ruang tengah. Gendhis langsung memeluk ibunya erat-erat, menumpahkan segala kelegaan yang ia rasakan sepanjang hari yang mendebarkan itu. Di meja makan, sambil menikmati teh hangat buatan Ibu, Gendhis menceritakan segalanya tentang kegugupan Bintang, momen kepanikan di atas panggung, hingga bisikan Bismillah yang menyelamatkannya di detik-detik terakhir. Ibu mendengarkan dengan senyum penuh rasa syukur, lalu mengusap lembut kepala Gendhis. "Ibu bangga sekali sama Gendhis," kata Ibu lembut. "Bukan cuma karena piala ini, tapi karena Gendhis sudah paham bahwa kalimat Bismillah bukan tentang keajaiban, tapi tentang kepasrahan dan keikhlasan setelah berusaha sekeras mungkin di bumi, dan kerendahan hati untuk memohon ketenangan dan menyerahkan hasilnya pada Allah di langit," Ibu mengecup kening Gendhis. "Bismillah itu adalah jembatannya. Ketika kita menyebut nama-Nya, kita sedang mengundang Yang Maha Besar untuk menjaga hati kita." Gendhis tersenyum lebar, memandangi piala di atas meja, lalu bergantian menatap ibunya. Sore itu, dia belajar satu hal berharga. Sukses bukan hanya tentang seberapa keras kita belajar, melainkan bagaimana kita tetap melibatkan Allah di setiap langkah kita. Sejak hari itu, Gendhis membiasakan diri memulai segala sesuatu dengan Bismillah. Seperti saat hendak membuka pintu, hendak belajar, bahkan saat hendak mandi, Gendhis memulai semuanya dengan Bismillah. Karena sekarang Gendhis paham, Bismillah bukan hanya untuk diucapkan saat mengalami kesulitan atau saat terdesak dalam lomba, tetapi untuk mengawali setiap langkah baik dalam hidupnya.
Halaman 3 dari 3

🎉

Selesai! Kamu telah membaca semua halaman.

Kembali ke halaman cerita