Pertandingan Yang Menegangkan
Sebulan berlalu. Hari lomba Cerdas Cermat yang dinanti akhirnya tiba.
Aula tempat perlombaan sudah dipenuhi peserta dari berbagai sekolah. Di sudut ruangan, Gendhis duduk bersama kedua teman satu timnya, Bintang dan Salsa. Ketiganya mengenakan seragam sekolah yang rapi. Di depan mereka, guru pembimbing memberikan semangat terakhir.
"Ingat, kalian sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Kerjakan yang terbaik. Menang atau kalah bukan yang paling penting. Yang penting, tetap kompak dan jangan mudah panik."
Gendhis mengangguk pelan. Namun, saat tim mereka dipanggil menuju panggung, jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
"Aduh... aku mulai gugup," bisiknya.
Bintang yang dikenal paling pintar di kelas tersenyum percaya diri.
"Tenang saja. Kita sudah latihan berkali-kali. Pasti bisa."
Perlombaan pun dimulai.
Babak pertama berjalan lancar. Tim Gendhis berhasil menjawab banyak pertanyaan dengan tepat. Skor mereka terus bertambah hingga berada di posisi teratas.
Memasuki babak rebutan, suasana berubah semakin menegangkan. Poin mereka bersaing ketat dengan poin lawan. Semua peserta harus berpikir cepat sekaligus cermat. Jika salah menjawab, maka poin bisa berkurang.
Kemudian, sebuah pertanyaan bonus dengan nilai tinggi dibacakan.
Belum selesai pembawa acara menyelesaikan seluruh kalimatnya, Bintang sudah lebih dulu menekan bel.
"Ting!"
Seluruh penonton menoleh.
Bintang tampak yakin. Namun, saat pertanyaan selesai dibacakan, wajahnya berubah pucat.
"Oh tidak..."
Ternyata ia salah memahami maksud pertanyaan.
Mikrofon diberikan kepada Bintang. Ia mencoba mengingat jawaban, tetapi pikirannya mendadak kosong. Napasnya menjadi tidak beraturan. Semakin keras ia memaksa mengingat, semakin sulit jawabannya muncul.
Melihat itu, Gendhis dan Salsa jadi ikut tegang.
"Bagaimana kalau kami kehilangan banyak poin? Bagaimana kalau akhirnya kalah?" pikir Gendhis.
Jantungnya kembali berdegup kencang. Tangannya mulai berkeringat.
Tiba-tiba ia teringat pesan Ibu sebelum ia berangkat tadi.
"Kalau mulai takut, ingat Allah. Sebut nama-Nya. Bukan supaya menjadi pintar seketika, tetapi supaya hatimu tenang."
Gendhis menarik napas perlahan.Dalam hati ia berbisik,
"Bismillahirrahmanirrahim."
Ia mengembuskan napas pelan.
Sekarang ia tidak lagi memikirkan harus menang atau kalah. Ia hanya berusaha memahami kembali pertanyaan tersebut.
Saat itulah ia ingat bahwa, soal yang ditanyakan pembawa acara sama dengan soal latihan yang pernah ia kerjakan. Hanya, angka dan susunan kalimatnya berbeda.
Ketika waktu hampir habis, guru pembimbing memberi isyarat kepada anggota tim lain.
Gendhis segera mengambil mikrofon dari tangan Bintang.
Dengan suara yang tenang, ia menyampaikan jawabannya.
"..."
"Jawaban benar!"
Suara tepuk tangan memenuhi aula.
Tim mereka kembali memperoleh poin penuh.
Bintang mengembuskan napas lega. Salsa tersenyum lebar. Gendhis pun ikut tersenyum. Bukan karena merasa paling hebat, tetapi karena ia bersyukur masih bisa berpikir jernih saat keadaan mulai kacau.
Beberapa soal berikutnya berhasil mereka selesaikan bersama. Ada yang dijawab Bintang, ada yang dijawab Salsa, dan ada pula yang dijawab Gendhis.
Akhirnya bel penanda perlombaan selesai berbunyi.
"Selamat kepada SD Harapan Bangsa sebagai Juara Pertama Lomba Cerdas Cermat tahun ini!"
Ketiga sahabat itu saling berpelukan dengan wajah penuh kebahagiaan.
Setelah menerima piala, Bintang menghampiri Gendhis.
"Ndis, maaf ya."
"Maaf kenapa?"
"Aku tadi terlalu percaya diri. Aku buru-buru menekan bel karena ingin cepat dapat poin. Malah hampir bikin tim kita kehilangan kesempatan."
Gendhis tersenyum.
"Kita semua bisa gugup, kok. Untung kita saling membantu."
Bintang mengangguk.
"Tadi aku lihat kamu sempat memejamkan mata. Kamu lagi berdoa ya?"
"Iya."
"Terus setelah itu kamu langsung tahu jawabannya?"
Gendhis menggeleng sambil tersenyum.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Aku bisa menjawab karena sebelumnya sudah belajar. Soal latihan yang aku kerjakan ada yang sama, hanya beda angka dan kata-katanya. Setelah baca Bismillah, yang berubah bukan isi kepalaku, tapi rasa perasaanku. Aku jadi lebih tenang, dan bisa mengingat dengan lebih baik"
Bintang terdiam beberapa saat.
"Berarti lain kali aku juga harus lebih tenang... dan jangan terlalu percaya diri."
Gendhis tertawa kecil.
"Setuju. Belajar yang rajin, tetap tenang, lalu awali dengan Bismillah."
Mereka pun berjalan pulang sambil membawa piala kemenangan. Di hati Gendhis, ia kembali bersyukur kepada Allah yang telah memberinya ketenangan untuk melakukan yang terbaik.
📖
Mari Memulai Dengan Bismillah
Pertandingan Yang Menegangkan
Sebulan berlalu. Hari lomba Cerdas Cermat yang dinanti akhirnya tiba.
Aula tempat perlombaan sudah dipenuhi peserta dari berbagai sekolah. Di sudut ruangan, Gendhis duduk bersama kedua teman satu timnya, Bintang dan Salsa. Ketiganya mengenakan seragam sekolah yang rapi. Di depan mereka, guru pembimbing memberikan semangat terakhir.
"Ingat, kalian sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Kerjakan yang terbaik. Menang atau kalah bukan yang paling penting. Yang penting, tetap kompak dan jangan mudah panik."
Gendhis mengangguk pelan. Namun, saat tim mereka dipanggil menuju panggung, jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
"Aduh... aku mulai gugup," bisiknya.
Bintang yang dikenal paling pintar di kelas tersenyum percaya diri.
"Tenang saja. Kita sudah latihan berkali-kali. Pasti bisa."
Perlombaan pun dimulai.
Babak pertama berjalan lancar. Tim Gendhis berhasil menjawab banyak pertanyaan dengan tepat. Skor mereka terus bertambah hingga berada di posisi teratas.
Memasuki babak rebutan, suasana berubah semakin menegangkan. Poin mereka bersaing ketat dengan poin lawan. Semua peserta harus berpikir cepat sekaligus cermat. Jika salah menjawab, maka poin bisa berkurang.
Kemudian, sebuah pertanyaan bonus dengan nilai tinggi dibacakan.
Belum selesai pembawa acara menyelesaikan seluruh kalimatnya, Bintang sudah lebih dulu menekan bel.
"Ting!"
Seluruh penonton menoleh.
Bintang tampak yakin. Namun, saat pertanyaan selesai dibacakan, wajahnya berubah pucat.
"Oh tidak..."
Ternyata ia salah memahami maksud pertanyaan.
Mikrofon diberikan kepada Bintang. Ia mencoba mengingat jawaban, tetapi pikirannya mendadak kosong. Napasnya menjadi tidak beraturan. Semakin keras ia memaksa mengingat, semakin sulit jawabannya muncul.
Melihat itu, Gendhis dan Salsa jadi ikut tegang.
"Bagaimana kalau kami kehilangan banyak poin? Bagaimana kalau akhirnya kalah?" pikir Gendhis.
Jantungnya kembali berdegup kencang. Tangannya mulai berkeringat.
Tiba-tiba ia teringat pesan Ibu sebelum ia berangkat tadi.
"Kalau mulai takut, ingat Allah. Sebut nama-Nya. Bukan supaya menjadi pintar seketika, tetapi supaya hatimu tenang."
Gendhis menarik napas perlahan.Dalam hati ia berbisik,
"Bismillahirrahmanirrahim."
Ia mengembuskan napas pelan.
Sekarang ia tidak lagi memikirkan harus menang atau kalah. Ia hanya berusaha memahami kembali pertanyaan tersebut.
Saat itulah ia ingat bahwa, soal yang ditanyakan pembawa acara sama dengan soal latihan yang pernah ia kerjakan. Hanya, angka dan susunan kalimatnya berbeda.
Ketika waktu hampir habis, guru pembimbing memberi isyarat kepada anggota tim lain.
Gendhis segera mengambil mikrofon dari tangan Bintang.
Dengan suara yang tenang, ia menyampaikan jawabannya.
"..."
"Jawaban benar!"
Suara tepuk tangan memenuhi aula.
Tim mereka kembali memperoleh poin penuh.
Bintang mengembuskan napas lega. Salsa tersenyum lebar. Gendhis pun ikut tersenyum. Bukan karena merasa paling hebat, tetapi karena ia bersyukur masih bisa berpikir jernih saat keadaan mulai kacau.
Beberapa soal berikutnya berhasil mereka selesaikan bersama. Ada yang dijawab Bintang, ada yang dijawab Salsa, dan ada pula yang dijawab Gendhis.
Akhirnya bel penanda perlombaan selesai berbunyi.
"Selamat kepada SD Harapan Bangsa sebagai Juara Pertama Lomba Cerdas Cermat tahun ini!"
Ketiga sahabat itu saling berpelukan dengan wajah penuh kebahagiaan.
Setelah menerima piala, Bintang menghampiri Gendhis.
"Ndis, maaf ya."
"Maaf kenapa?"
"Aku tadi terlalu percaya diri. Aku buru-buru menekan bel karena ingin cepat dapat poin. Malah hampir bikin tim kita kehilangan kesempatan."
Gendhis tersenyum.
"Kita semua bisa gugup, kok. Untung kita saling membantu."
Bintang mengangguk.
"Tadi aku lihat kamu sempat memejamkan mata. Kamu lagi berdoa ya?"
"Iya."
"Terus setelah itu kamu langsung tahu jawabannya?"
Gendhis menggeleng sambil tersenyum.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Aku bisa menjawab karena sebelumnya sudah belajar. Soal latihan yang aku kerjakan ada yang sama, hanya beda angka dan kata-katanya. Setelah baca Bismillah, yang berubah bukan isi kepalaku, tapi rasa perasaanku. Aku jadi lebih tenang, dan bisa mengingat dengan lebih baik"
Bintang terdiam beberapa saat.
"Berarti lain kali aku juga harus lebih tenang... dan jangan terlalu percaya diri."
Gendhis tertawa kecil.
"Setuju. Belajar yang rajin, tetap tenang, lalu awali dengan Bismillah."
Mereka pun berjalan pulang sambil membawa piala kemenangan. Di hati Gendhis, ia kembali bersyukur kepada Allah yang telah memberinya ketenangan untuk melakukan yang terbaik.
← → untuk berpindah halaman | Esc untuk keluar